카테고리 보관물: Artist

Another Ed in my mind … Oh It’s TWILIGHT time

Duuh, saya tiba-tiba jatuh cinta pada buku yang diberi kakak saya tempo hari *bukan hanya karena ceritanya aja tapi juga karena gratisnya, hihihi

Saat pertama membacanya, ya so so lah … but then, setelah bab ke 2-3-4 dst … gila … membuat saya nggak sabar untuk membaca-membaca dan membaca terus kelanjutan ceritanya *Saya menyelesaikan buku setebal 518 halaman tersebut satu setengah hari, not bad huh?
Alasan awal membaca buku ini, se-alasan dengan keinginan saya membaca Narnia, yah karena emang bakalan ada filmnya.

Buku apa sih ?
Pernah denger TWILIGHT ?? Itu judul bukunya.

Ceritanya tentang apa ?
Vampire *bacanya harus dengan gaya Haley Joel Osment ngomong “I see dead people” di Sixth sense ya? hehehe, kind a creepy isn’t ?
Nggak juga dan nggak banget … menurut saya buku ini jauh dari kesan creepy, malahan lebih berkesan romantic.
Romantis? Rokok Makan Gratis maksud lo?? Oopps, ya, saya pernah bilang nggak ya kalau saya pecinta cerita romantis ?? *bukannya jadi berkesan klise Fen ?? untungnya saya juga pecinta cerita klise :p
Seperti itik buruk rupa yang bertemu dengan pangeran ganteng dan jatuh cinta, dan si pangeran ganteng ternyata menaruh perasaan itu juga ke itik buruk rupa ?
Ceritanya nyaris-nyaris seperti itu … tapi prosesnya … agak-agak jauuhhhh sih, dan bagi saya kesannya lebih dapet di hati saya *ciieehh, sampe kebawa ke dalam hati neh, kaya’ waktu saya baca semua buku Harry Potter sama 5 CM ajah … ;p

Bisa cerita’in garis besarnya nggak ?
Hmm, gini deh. Once upon a time *cuihh … bahasanya dongeng amat …
Bella Swan, memutuskan untuk tinggal di rumah ayahnya di suatu kota bernama Forks *kota yang setiap hari hujan dan mendung mulu. By the way, ayah ibunya sudah cerai, dan untuk menghindari ibunya yang baru saja menikah lagi, pindahlah Bella ke kota itu, yang pada awalnya ia anggap akan membosankan.
Not after she met this guy, yang bikin dia penasaran setengah mampus, masa iya di hari pertamanya sekolah ia harus menerima tatapan membunuh dari cowok itu ?
Usut punya usut tanya kanan kiri, gosip sana gosip sini, nama tuh cowok Edward Cullen *huhuhu … he’s the another Ed by the way. Cowok yang kemana-mana selalu bersama saudara-saudarinya, hmm … biar saya ingat satu-satu namanya.
Emmett Cullen, Alice Cullen, Rosalie Hale, dan Jasper Hale. Dan mereka LUAR BIASA KEREN … for real *or at least seperti pemaparannya di buku, Stepenie Meyer sangat detail tentang hal ini *Siapa Stephenie Meyer ?? Dia penulis novel serial ini, daripada ntar yang baca bingung …*

Bagaimana pemaparannya ?

Mereka memiliki kulit yang sangat pucat, wajah perfect tanpa cela, pintar, mobil bagus dan sangat kaya. Sayangnya mereka tidak bergaul dengan teman-teman yang lain, jangan salah ada alasannya loh ?
Kenapa, Fen ? Mereka ternyata bau ya? nggak pernah mandi ?? *eh tapi beneran loh, saya nggak pernah membaca satu scene dimana mereka lagi mandi :o

Nggak ding ;p, karena mereka berbeda, that’s it. Hal yang akhirnya membuat Bella semakin penasaran.
Rasa penasaran itu membuat dirinya semakin terpacu untuk mengenal cowok ini lebih dekat, toh kenyataannya mereka akhirnya saling kenal juga, bermula dari saling flirting, ejek, dan sebagainya, akhirnya mereka menyadari kalau mereka saling sayang, cinta, butuh bahkan nyandu *bow Cliche banget kan?
Ungkapan “nyandu” itu kerasa banget dari ucapan-ucapan mereka satu sama lain, berasa kaya’ kecanduan heroin *bukannya saya tau loh ya ;p.
Stephenie Meyer bener-bener sukses bikin bulu kuduk saya berdiri karena saya bener-bener merasakan yang mereka rasakan.
Betapa mereka nggak ingin dipisahkan, walau mereka sadar kalau mereka ada di dunia yang berbeda *ciieehh, macam roman di novel-novel kuno
Walaupun Bella akhirnya menyadari kalau Edward adalah seorang Vampire – ya he’s a vampire like the other families that his got, malahan the best predator in the world, *huuu, syerem, tapi emang itu ungkapan paling tepat untuk seorang Edward Cullen – cewek ceroboh ini nggak peduli. Bell sadar banget sebenarnya yang harus lebih ia pedulikan adalah dirinya sendiri, tapi bukannya mengakui, ia malah harus repot-repot peduli dengan Edward yang tak akan mungkin tersakiti *duuh cinta banget Bell ??
Tapi ini berlaku juga untuk cinta Edward ke Bell, hhmm … jadi inget postingan saya beberapa waktu lalu, saya jamin tuh cowok perfect adalah Edward ;p. You girls will LOVE him, guarantee …. not just because his HOT, but also loveable.
Eh tapi hebatnya lagi nggak ada satu kata taring-pun loh disini yang identik dengan vampir, dan itu membuat semuanya tampak uncreepy.


Well, anyway, ini buku worth to read, you won’t regret it. And I’m defenitly can’t wait to see TWILIGHT the movie this December.
Tau siapa pemeran Edward Cullen, hmmm … masih inget siapa tokoh murid sihir terganteng yang pernah ditulis JK Rowling dalam Harry Potter ?
Kalau hafal seharusnya kalian menjawab Cedric Diggory, yup, pemeran Cedric yang mati ganteng dan dicintai banget sama Cho Chang di film Harry Potter ke 4 itu yang bakalan jadi tokoh Edward, namanya Robert Pattison by the way. Semoga aja dengan lebih banyaknya role yang ia dapatkan di sebuah Film, membuatnya lebih becus berakting. Karena saya bahkan nggak hafal dengan suaranya waktu jadi Cedric, do you guys ??

Suddenly ingin membahas D’Masiv

Setelah kepincut dengan lagu-lagu RAN yang menyenangkan dan bikin mood buat ‘joget’, kali ini saya sedang thrilling mendengar lagu-lagu dari D’Masiv, band jebolan A Mild Live Wanted 2007 itu loh. Jauh berbeda dengan lagu RAN yang seperti saya bilang tadi ‘so pleasant’, grup band ini mengusung lagu-lagu yang rada-rada menyayat hati *ini dari sependengaran saya setelah mendengar beberapa lagu mereka sih. Bayangin aja judul-judulnya, yang bikin kita mungkin bakalan berkata “My God, jajaran lagu sakit hati neh??” Seperti, Cinta ini Membunuhku, Tak bisa hidup Tanpamu, Merindukanmu, Lukaku dsb dsb … Pluss dengan petikan gitar beberapa intro sang gitaris (namanya Riki dengan panggilan Kiki) yang huuuuhh … “sakit … sakit” … ;p
But somehow, saya suka, atau lebih tepatnya menikmati, entah karena emang lagu-lagu dengan tempo lambat seperti ini sedang menjadi trend saat ini, atau mungkin hanya karena D’Masiv sedang booming saat ini, karena toh mereka pemenang festival band yang saya sebut si atas tadi? atau mungkin emang saya lagi rada-rada ngerasa seperti yang dinyanyiin vokalisnya? Yang maksudnya nih, feeling menentukan lagu mana yang menjadi soundtrack hati kita saat ini *loh loh emang Fenty sedang sakit hati ya ?? ;p Hmm, I don’t know… saya bahkan nggak mau ngerasa sakit hati kok, apa iya ya?? * Fenty sedang bingung … giling, blog kok dibuat curhat colongan mulu …
Well the point is
, saya akhirnya jadi tertarik untuk menoleh ke belakang untuk mengetahui bagaimana sih perjalanan D’Masiv ini sampai akhirnya bisa sesukses sekarang?
Usut punya usut ternyata band yang beranggotakan Rian (vokal), Riki (gitar), Rai (bass) –> Namanya sama dengan salah satu personelnya RAN, Rama (gitar) dan Wahyu (drum) ini ‘seekor’ “macan festival” juga loh, buktinya mereka sudah berlalu lalang dari panggung ke panggung dari tahun 2003 untuk menunjukkan kemampuan musikalitas mereka. Sebelum mengusung sukses dengan lagu-lagunya saat ini, kabarnya dulu band ini lebih nyaman di jajaran musik progresif yang bagi pendengar di Indonesia tuh belum bisa ke’pegang’. Tau sendiri dong dengan selera musik orang Indonesia ‘kebanyakan’ *saya harus akui saya termasuk salah satunya ;p
Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah jalur ke area POP, tidak
dengan alasan hanya “Berubah” karena selera masyarakat, tapi juga “Pendewasaan dalam musikalitas” Whatever deh dengan pemindahan jalur musik dan apapun itu, yang pasti saya sedang menikmati sekali lagu-lagu dari 5 cowok ini. Untuk D’Masiv, sukses terus !!! Semoga bisa memberikan kontribusi positif bagi permusikan Indonesia … Terakhir, saya mau bagi lirik salah satu lagu mereka nih…


D’Masiv – Merindukanmu

saat aku tertawa di atas semua
saat aku menangisi kesedihanku

aku ingin engkau selalu ada

aku ingin engkau aku kenang

selama aku masih bisa bernafas
masih sanggup berjalan
ku kan slalu memujamu
meski ku tak tau lagi
engkau ada di mana
dengarkan aku ku merindukanmu

saat aku mencoba merubah sgalanya

saat aku meratapi kekalahanku
dengarkan aku ku merindukanmu

NB : Tuh nelangsa banget kan lagunya?? Anyway, saya suka dengan cover CD/Kasetnya, so invisible man banget …

Semakin cinta Blue Mini Cooper nih

Saya ingin memanfaatkan waktu sebelum saya berjibaku dengan UTS saya nih, jadi beberapa hari ini saya jadi rajin banget update blog :))
Kali ini saya ingin bercerita tentang kecintaan baru saya terhadap sebuah brand mobil yang mungkin sudah banyak orang yang tau dan suka. Yup, seperti yang saya katakan di harapan-harapan saya di bawah “Mini Cooper”

Jujur, saya baru tau bow kalau mobil sebagus itu juga semacam Mini Cooper. Soalnya dalam fikiran saya dulu, Mini Cooper itu ya mobil yang dipake Mr Bean, yang bagi saya itu gak banget *maaf ya kalau ada yang suka
Tapi setelah Sabtu kemaren, dimana saya menghadiri undangan pernikahan teman saya di Malang. Saya jatuh cinta …
Sama mobilnya cowok temen saya *bukan cowoknya loh ya … Soalnya tuh cowok pulangnya pake mobil biru bright lucuuuu banget, saat itu saya cuma berpendapat “Gila keren banget mobilnya !!!” dan baru menyadari setelah teman saya tiba-tiba masuk ke dalam mobil tersebut. “Oh ternyata mobil cowoknya??”
Oohhh, Sil … jadi jeaolus mode on, sama mobilnya loh ya …
Pertemuan saya dengan mobil tersebut hanya 2 menit, karena waktu itu kita pada mau pulang, tapi hanya dalam hitungan 2 menit saya bisa dibuat jatuh cinta. Catatan, saya belum nyadar tuh mobil semacam Mini Cooper, dan saat beberapa hari yang lalu saya membuka email yahoo saya, kebetulan ada sebuah iklan yang nempel di headernya dimana ada gambar sebuah mobil yang miirriiip banget dengan yang saya lihat Sabtu kemaren.
Barulah saya sadar setelah melihat tulisan di bawahnya, “Oh itu Mini Cooper??” *kaya’ orang bego sejagat, hehehe
Akhirnya mampir dong saya ke imagenya om gugel dan mengetikkan kata “Blue Mini Cooper”
And viola … terpampang mobil-mobil Mini Cooper biru yang cantik amat sangat ….
Dan sekarang, saya semakin jatuh cinta lagi, saat si faiq, blog tetangga tuh nyapa saya di YM tadi pagi.
Kira-kira isinya kaya’ gini,
faiqfardian : Fen, kamu harus tanggung jawab
fenty fahmi : Hah? Tanggung jawab apa?
*Fenty yang cengok, nggak nyadar apa yang faiq katakan, udah mikir yang macem-macem tuh awalnya, hehehe
faiqfardian : Kamu menularkan virus Mini Cooper padaku setelah aku liat blogmu
*Dhhieeengg …
fenty fahmi : Huwaaa, iya Mini Cooper keren banget !!! *dengan polosnya
faiqfardian : Barusan aku liat http://www.miniusa.com
faiqfardian : Mini Cooper S-nya keren banget !!!

Setelah saya coba-coba buka tuh website yang namanya http://www.miniusa.com … Bowwwww, tambah cinta sama Mini Cooper …
Gambar mobilnya keren-keren sangat !!! *buka dehDan tambah merasa cengok saat saya menyadari kalau “My God tuh mobil kan yang dipake di film Italian Job ya?”


Italian Job … dimana cowok aku, Edward Norton maen … *MasyaAllah Fenty, sadar…sadar… ;p
Intinya, saya punya satu harapan lagi yang saya ingin bisa terwujud someday, ya itu …

Punya Blue Mini Cooper or … cari cowok yang punya Mini Cooper aja kali ya? *wakakakakak … dangkal amat bu …
Pokoknya doa’in ya supaya punya, hehehe …

Kesampaian juga nonton ini …

Akhirnya terlaksana juga keinginan saya untuk menonton film adaptasi novel yang satu ini. Okay, saya ikuti saran sepupu saya, untuk tidak menyamakan cerita sebuah novel yang akhirnya dibuat filmnya.
Karena memang lebih sering tidak sesuai dengan bukunya. Jadi anggap saja 1 judul yang sama ini adalah 2 cerita yang berbeda.
Jujur sih nih film nggak sebegitu miripnya dengan bukunya, but somehow bener kok kata kebanyakan orang kalau nih film lumayan bagus.
Bagus karena gambarnya indah, bagus karena kesemuanya tokohnya hhmm … tidak terlalu miscast (walaupun ada beberapa tokoh yang sebenernya memiliki peranan lebih penting dibanding lainnya), bagus karena masih penuh dengan nasehat-nasehat yang menginspirasi, dan bagus karena bisa membuat sahabat saya nangis karena film ini, hehehe.
“Tre, akhirnya terinspirasi juga kamu baca bukunya, hehehe”
Sayang banget ada beberapa hal yang bikin sebel, seperti di scene Rianti (Aisha) sedang curhat sama pamannya a.k.a Surya Saputra, bisa-bisanya ada sebuah microphone nangkring di atas kepala mereka.
Waduuh, entah karena ngeditnya payah, atau emang nggak ngurus hal detail semacam ini (padahal kan rentang waktunya cukup lama sampai nih film rilis ya?), yang pasti itu ganggu banget.
Tapi cuma sampai situ saja kok kesebelan saya, lainnya udah cukup oke.
Mas Hanung, sukses ya untuk film-film selanjutnya … dan jangan lupa ngedit kalau ada yang salah-salah itu …

Siip ….

Adaptation – Book to Movie

Saya suka baca buku, dilain pihak saya juga suka menonton film. Jadi bahasan kali ini saya akan menyatukan keduanya. Saya ingin mereview beberapa film adaptasi buku yang sudah saya pernah lihat sebelumnya *gara-gara nonton Notebook di TransTV kemaren malem sih.
Karena film adaptasi novel itu banyak banget, saya akan mereview 10 film saja kali ini yang kebetulan sudah saya baca dan lihat filmnya.
Sebelumnya saya akan menyingkirkan dulu beberapa film, karena mungkin *mungkin loh … banyak orang menganggap film-film ini “must seen movie”, bagi saya begitu.
(Film yang dimaksud: Harry Potter, Lord Of The Rings dan DaVinci Code).
Okay sepuluh film terpilih tersebut adalah :
1.
Notebook (Nicholas Sparks)

Bagi saya ini adalah salah satu film adaptasi novel romantis yang bisa bikin saya menganggap, “Wow, kena banget!”
Mungkin karena lantaran Ryan Gosling (Noah) dan Rachel McAdams (Allie) punya chemistry kuat di film ini (They’re going out for real kan??).
Mungkin juga karena filmnya hampir sesuai dengan bukunya, dan jujur saja, this is one of my favourite romantic novel setelah Walk to remember yang dikarang oleh orang yang sama.
Memalukannya, saya nangis membaca buku ini … dan lebih memalukan lagi, saya nangis juga liat filmnya …
Oooohhh … It’s really sweet and sad story …
Anyway, Ryan Gosling looks hot in here, biasanya saya nggak suka soalnya … ;p
2.
A Walk To remember (Nicholas Sparks)
Saya cinta banget dengan bukunya, but why why why filmnya nggak sebagus bukunya ????
Entah karena efek Mandy Moore yang kalo ngomong mulutnya suka maju-maju gituh (beneran loh ;p) atau si Shane West yang aktingnya payah.
Yang jelas, saya mau banget membaca bukunya dan harus nangis bombay. Daripada menonton filmnya dan hati saya nggak trenyuh melihatnya.
3.
Princess Diaries (Meg Cabot)

Saya memang melihat filmnya dulu sebelum akhirnya saya menjadi tergila-gila pada Series Princess Diaries. Yang setelah saya baca ternyata jauuuhh berbeda, filmnya terlalu berlebihan dan disney banget. Tapi, lantaran menonton film ini, saya jadi jatuh hati pada tokoh Michael Moscovitz yang diperankan oleh Robert Schwartzman (yang anyway busway adalah salah satu anggota band The Roonies)
But for sure saya lebih jatuh cinta pada tokoh fiktifnya, yang gila aja, jadi cowok kok perfect banget ya ??!!!!
Tokoh Mia (Amelia Thermopolis) memang cocok banget dimainkan oleh
Anne Hathaway (sebelum akhirnya sekarang ia mengubah imagenya tentunya)
NB: But really, i hate the
second movie … where’s my Michael ??????
4.
Devil Wears Prada (Lauren Weisberger)

Masih berhubungan dengan Anne Hathaway juga kalau masih ingat. Untuk kali ini menurut saya buku dan filmnya sama-sama keren!!
Merryl Streep benar-benar gape banget memainkan tokoh Miranda Priestly di film ini, sangat-sangat sesuai dengan bukunya *buktinya ia bisa masuk nominasi Oscar waktu itu, eh bener gak ya Oscar, apa Golden Globe?.
Satu yang paling saya ingat dari buku ini, bagaimana tokoh Andy harus mencari novel Harry Potter terbaru permintaan bosnya, padahal belum waktunya terbit.
Dan Andy sukses mencarinya, gila … kalau emang bener kejadian, wow applause !!!
5.
Ella Enchanted (Gail Carson Levine)

So Sorry, lagi-lagi kaya’nya Anne lagi neh, spesialis film adaptasi novel kaya’nya tuh orang.
Well, let’s just talk about the story. Filmnya lagi-lagi terlalu Disney, and hellow !!! Char Fans Club?? Lucu juga sih filmnya, tapi dari sisi cerita Ella Enchanted versi novel lebih membuat saya mengerti penderitaan Cinderella.
Guys, you should read this book.
6.
Eragon (Christopher Paolini)

Saya pernah sempat mereview filmnya di friendster saya beberapa waktu yang lalu.
And yeah, filmnya parah, jauh banget dari kebanggaan saya membaca bukunya. Karena bukunya lumayan bisa disejajarkan dengan novel macam Lord Of the Rings loh.
Bahkan saya lebih suka novel Eragon daripada novel Lord Of the Rings yang tokohnya banyak banget itu (Novelnya loh … bukan filmnya).
But anyway, tokoh Eragonnya yang dimainkan oleh Ed Speleers orangnya ganteng, hihihihi.
7.
Golden Compass (Philip Pullman)

Guys you should read all the series of this book !!!! Karena bener deh keren banget ceritanya !!!
About the movie, well … efeknya emang bagus banget, apalagi tokoh Iorek si beruang yang keliatan seperti beneran.
Tapi dari segi cerita dan adaptasi dari novelnya, banyak banget membuat saya kecewa.
Cerita yang terlalu dipercepat, ending yang menggantung, setting yang diubah … hhhh …
Saya sih cuma bisa komentar aja, mudah-mudahan kalau memang dibuat Subtle Knife dan Amber Spyglass, film-film itu bakalan menjadi kebanggaan buat saya.
8.
Charlie and the Chocolate Factory (Roald Dahl)

Colourful !!!! Kalau ini mah dua-duanya sama … novel dan filmnya oke, Walaupun ceritanya lebih cocok untuk anak-anak sih.
9.
Chronicles of Narnia The Lion The Witch and The Wardrobe (C.S. Lewis)

Saya suka bukunya (yang kisahnya semacam dongeng tidur untuk anak-anak) dan saya cukup suka dengan filmnya (walaupun ada teman saya yang tidak terlalu menikmatinya)
Dan ya saya menunggu film Prince Caspian, lanjutan dari film ini, walaupun kisahnya tidak terlalu spesial. Tapi semoga bisa menjadi hiburan tersendiri untuk saya.
10.
Lemony Snicket’s A Series of Unfortunate events

Saya hanya membaca seri yang pertamanya by the way, yang menjadi adaptasi dari film yang dimaikan oleh Jim Carrey sebagai tokoh antagonisnya itu.
Cukup menghibur sebenarnya, walaupun saya tidak terlalu suka ceritanya.
Seperti yang kita baca di bagian belakang bukunya, “Jika anda tidak suka dengan cerita yang tidak happy ending jangan pernah membaca buku ini”
Saya belum tau ending serinya, happy ending nggak sih? Males bacanya sih, karena saya kan pecinta cerita happy ending ;p.

Tunggu, saya masih ada daftar beberapa film adaptasi novel, yang kali ini saya harapkan akan segera melihatnya :
1. Stardust (Neil Gaiman) – Telah difilmkan
2.
Perfume:The Story Of Murderer (Patrick Suskind) – Telah difilmkan
3. Ayat-Ayat Cinta (Habibburahman El Sirazy) – Boooo, kelamaan nunggu, sampe bosen juga neh, tolong jangan bikin orang bosan menunggu dong …
3.
Darren Shan-Cirque Du Freak (Darren Shan) – Dalam pembuatan
4. 5 CM (Dhonny Dhirgantoro) – Masih rencana (kata Dhonny)
5. Artemis Fowl Series (Eoin Colfer) – Difilmkan dong???
6. Supernova Series (Dee) – Difilmkan nggak sih ?

Mungkin ini hanya beberapa film adaptasi yang saya review disini, kalau ada teman-teman ingin menambahkan untuk pengetahuan film saya, boleh dong dibagi …

++ Most of the link is taken from imdb.com

Rest In Peace … Renfro

Saya baru mengetahui bahwa Brad Renfro baru meninggal 3 hari yang lalu. Wow, gila, gak kebayang (Eeee… sebenernya kebayang sih, secara pergaulan dan addictednya terhadap drugs) Yeah, he can easily die.

Ada yang aware nggak terhadap mendiang aktor yang satu ini? Atau malah mengingat? Kalau iya, ikutin saya untuk mengingatnya ya? kaya’nya sewaktu jaman SMP-SMA dulu, dimana saya mengidolakan banget aktor ganteng ini. Secara dia tuh wajahnya yang sweeeeeeet playboy gimana gitu, hehehe maklum lah cewek ABG normal mana sih yang gak tertarik ;p.
Pertama kali melihat cowok kelahiran 25 Juli 1982 ini (ooohh, he was so young) di film Sleepers dimana ia menjadi Michael Sullivan kecil (gedhe-nya yang jadi Brad Pitt, tuh bandingannya aja sepadan kan?)
After that moment, I had crush on him. Setelahnya saya coba cek-cek film-film apa aja sih yang pernah dimainkan cowok ini. Ow, ternyata dia pernah maen sama JTT di Tom and Huck, ia berperan sebagai Huck Finn-nya. Film cerita tidur kenamaan banget tuh di amrik. Kemudian, film friendship sedih berjudul the Cure, yang beneran sedih banget. Dimana ia berteman dengan seorang anak kecil yang terkena penyakit parah apaan gitu, dan si Renfro ini berniat mencari obatnya sampai ke manapun (Oooh so sweet). Film breakthrough-nya berjudul the Client, di mana ia bermain bagus banget di film itu. Sebagai saksi kunci sebuah kasus. Maaf-maaf tapi dari beberapa filmnya, hanya itu-itu aja yang bisa saya aware (kebetulan lihatnya film itu aja). Coz suddenly dirinya seperti tidak pernah muncul ke permukaan lagi (atau mungkin saya yang nggak ngikutin lagi?)

Balik ke masalah drugs, sebenarnya kenapa akhirnya dia terjerumus ke barang terlarang ini? Ternyata gini neh ceritanya (Temen saya ikutan sumbang cerita). Sejak ortunya bercerai Renfro akhirnya tinggal bersama neneknya di Knoxville. Sampai akhirnya ia bisa berhasil sukses di dunia entertainment, lalu pindahlah ia ke LA, yang akhirnya menjadikannya orang yang free. Freewill deh akhirnya, melakukan apa saja tanpa ada yang mengontrol. Jadilah ia orang yang seperti itu. Bayangin aja, di umur 16 tahun dia udah ketauan mengkonsumsi kokain dan marijuana, fiuuhh. Ini nih daftar ke’ancur‘annya dia:

Unknown detox facility Jan-2002
Driving While Intoxicated Jan-2002
Grand Theft tried to steal a 45′ yacht in Fort Lauderdale, FL (Aug-2000)
Drug Possession: Cocaine 5-Jun-1998
Drug Possession: Marijuana 5-Jun-1998
Violating Probation: 2002
Driving without a License TN (14-Jan-2002)
Drunk in Public TN (14-Jan-2002)
Underage Drinking Florida (16-May-2001)
Drug Possession: Heroin (attempted) Los Angeles, CA (22-Dec-2005)
Inmate: Los Angeles County Jail Risk Factors: Alcoholism, Marijuana, Cocaine, Heroin

Cause of death-nya sih katanya belum diketahui, tapi saya yakin kalau dia over dosis somewhere someplace.

Jadi bener kata orang bilang, peranan orang tua penting sekali dalam perkembangan anaknya. Oohh, semoga nggak banyak lagi aktor dan aktris yang terjerumus ke lembah hitam ini, masa iya sih belum banyak buktinya ??

A Touch Of Spice

A Touch of Spice, ‘Sentuhan dalam bumbu masak’ kalau dibahasa Indonesia-kan (Balik lagi ke bahasan makanan dong? Enggak kok ini cuma judul film … jangan kira saya mengingkari janji diet saya , hehehe) Judulnya menarik ya? Makanya saya akhirnya tertarik juga mengambil VCD film ini di jajaran rak Collection dalam persewaan VCD dekat rumah saya tadi siang. Dan setelah saya menontonnya, hmmm … Greece abis. Anyway busway, nih judul asli dalam bahasa Yunani-nya adalah Politiki Kouzina dan bahasa Spanyolnya, Un toque de Canella (Kali aja nggak nemu yang versi bahasa Inggris).
Setelah Toula dengan My Big Fat Greek Wedding-nya dan sedikit sentuhan Yunani dengan tokoh Lena dalam Sisterhood Travelling, film ini menampilkan kekhasan dari film Yunani.
Apa itu? Ya, balik lagi MAKANAN.
Film ini basicly bercerita tentang bumbu masak yang bisa diartikan secara universal.
Tokoh sentral-nya adalah Fanis, seorang dosen astronomi Yunani yang akan kedatangan tamu spesial yaitu kakek kandungnya sendiri, yang rencananya akan datang dari Turki.
Setelah ditunggu selama beberapa saat, kakek kesayangan yang ditunggu-tunggunya itu tidak juga datang. Sampai akhirnya sebuah telefon terdengar, kakeknya tidak dapat datang karena tiba-tiba ia collapse di bandara, tanpa diketahui kenapa.
Setelah itu, cerita beralur flashback, setiap segmen cerita diberi judul Hidangan Pembuka (Appetizer), Hidangan Utama (Main Course), dan Hidangan Penutup (Dessert).
Dalam segmen-segmen tersebut diceritakanlah bagaimana Fanis kecil saat masih bersama kakeknya yang memiliki toko bumbu masak. Di sana Fanis belajar untuk mengetahui bumbu rahasia dalam masakan-masakan Yunani; dan persamaan bumbu masak, Astronomi dan kehidupan (Ini pelajaran yang cukup menarik loh).
Lalu beralih di saat ia jatuh cinta dengan seorang gadis bernama Saime (yang bener deh cantik banget), dan gara-gara cintanya sama tuh cewek, barang pemberiannya yang berupa mainan masak-masakan (huehue, jadi inget jaman TK dulu) dibawa Fanis kemana-mana terus.
Namun tiba-tiba nasib membawa keluarganya – kecuali kakeknya – harus dideportasi dari Istanbul,Turki kota tercintanya untuk pindah ke Yunani.
Fanis terpisah dari kakeknya dan juga cinta pertamanya, Saime.
Cerita beralih ke Yunani, dimana Fanis dianggap nggak waras gara-gara dia pinter banget masak di umurnya yang baru 7 tahun, dimana ia tidak bisa melupakan cintanya pada Saime, dimana Fanis remaja (yang rada mirip dengan Jake Gyllenhall) beralih menjadi seorang koki dan beralih menjadi cowok dewasa, dimana setiap Kakeknya berjanji datang ke Yunani dirinya tidak datang juga.
Ect … ect … ect…


Sampai endingnya di segmen Hidangan Penutup akhirnya terbuka mengapa Sang Kakek tidak pernah datang ke Yunani dan dimana Fanis dewasa akhirnya bertemu dengan cinta pertamanya, Saime versi dewasa (yang cantiknya masih sama loh) yang telah menikah dan memiliki putri secatik Saime. Kalau ingin tahu bagaimana ending jelasnya, nonton sendiri ya?

Okay, pendapat saya? Film ini cantik, keren, lucu, dan sedih juga. Cuma, kok ya endingnya gak membahagiakan, hikz hikz, gambarnya sedikit bluring dan efek visualnya rada payah.
Tapi dari sedikit kekurangan-kekurangan itu teteup nih film layak ditonton.
Sip ??